Selamat Datang di Situs Resmi Pengadilan Agama Marabahan Kalimantan Selatan | Media Informasi & Transpransi Pengadilan Agama Marabahan

MENU UTAMA

PENGUMUMAN

    Pilih Bahasa

    KALENDER HIJRIAH

    Sabtu
    18
    Jumadil Akhir
    1435 H

    SITUS PILIHAN&APLIKASI ONLINE

    KONTAK ADMIN

    • Agus Sarbani
    • amrul

    WEB INFO

    Jumlah Pengunjung :
    167542
    Pengunjung Hari Ini :
    76
    User Online :
    1
    Terakhir Update :
    16-04-2014

    POLING

     

    Mahkamah Agung - Logo

     

    ARTI LAMBANG
    MAHKAMAH AGUNG - RI

     

    Marabahan / Pa-marabahan@gmail.com

     

         Logo ini merupakan logo Mahkamah Agung yang berkantor di sekitar kawasan Monumen Nasional (National monument of Indonesia), Jakarta Pusat. Untuk mengetahui arti dari logo maka penjelasan berikut dikutip dari website Mahkamah Agung disini.

     

    ARTI LAMBANG
    MAHKAMAH AGUNG - RI

     


    I. BENTUK :

    Perisai ( Jawa : Tameng ) / bulat telur
     

    II. I S I :

      • GARIS TEPI
        5 (lima) garis yang melingkar pada sisi luar lambang menggambarkan 5 (lima sila dari pancasila)

      • TULISAN
        Tulisan " MAHKAMAH AGUNG" yang melingkar diatas sebatas garis lengkung perisai bagian atas menunjukkan Badan, Lembaga pengguna lambang tersebut.

      • LUKISAN CAKRA
        Dalam cerita wayang (pewayangan), cakra adalah senjata Kresna berupa panah beroda yang digunakan sebagai senjata " Pamungkas " (terakhir). Cakra digunakan untuk memberantas ketidak adilan.

        Pada lambang Mahkamah Agung, cakra tidak terlukis sebagai cakra yang sering/banyak dijumpai misalnya cakra pada lambang Kostrad, lambang Hakim, lambang Ikahi dan lain-lainnya yakni berupa bentuknya cakra. Jadi dalam keadaan "diam" (statis)

        Tidak demikian halnya dengan cakra yang terdapat pada Lambang Mahkamah Agung. Cakra pada lambang Mahkamah Agung terlukis sebagai cakra yang (sudah) dilepas dari busurnya. Kala cakra dilepas dari busurnya roda panah (cakra) berputar dan tiap ujung (ada delapan) yang terdapat pada roda panah (cakra) mengeluarkan api.Pada lambang Mahkamah Agung cakra dilukis sedang berputar dan mengeluarkan lidah api (Belanda : vlam ).

        Cakra yang rodanya berputar dan mengeluarkan lidah api menandakan cakra sudah dilepas dari busurnya untuk menjalankan fungsinya memberantas ketidakadilan dan menegakkan kebenaran.

        Jadi pada lambang Mahkamah Agung, cakra digambarkan sebagai cakra yang " aktif ", bukan cakra yang " statis "

      • PERISAI PANCASILA
        Perisai Pancasila terletak ditengah-tengah cakra yang sedang menjalankan fungsinya memberantas ketidak adilan dan menegakkan kebenaran. Hal itu merupakan cerminan dari pasal 1 UU Nomor 14 tahun 1970 yang rumusnya.

        " Kekuasaan Kehakiman adalah Kekasaan Negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila, demi terselenggaranya Negara Hukum Republik Indonesia."

        Catatan : Rumusan pasal 1 UU Nomor 4 tahun 2004 sama dengan
        Dengan rumusan pasal 1 UU Nomor 14 tahun 1970.

      • UNTAIAN BUNGA MELATI
        Terdapat 2 (dua) untaian bunga melati masing-masing terdiri dari atas 8 (delapan) bunga melati, melingkar sebatas garis lengkung perisai bagian bawah, 8 (delapan ) sifat keteladanan dalam kepemimpinan (hastabrata).

      • SELOKA " DHARMMAYUKTI"
        Pada tulisan "dharmmayukti" terdapat 2 (dua) huruf M yang berjajar. Hal itu disesuaikan dengan bentuk tulisan " dharmmayukti " yang ditulis dengan huruf Jawa.

        Dengan menggunakan double M.huruf "A" yang terdapat pada akhir kata "dharma" akan dilafal sebagai "A" seperti pada ucapan kata "ACARA ", "DUA" "LUPA" dan sebagainya.

        Apabila menggunakan 1 (satu) huruf "M", huruf "A" yang terdapat pada akhir kata "dharmma" memungkinkan dilafal sebagai huruf "O" seperti lafal "O" pada kata "MOTOR", "BOHONG" dan lain-lainnya.

        Kata "DHARMMA" mengandung arti BAGUS, UTAMA, KEBAIKAN. Sedangkan kata "YUKTI" mengandung arti SESUNGGUHNYA, NYATA. Jadi kata "DHARMMAYUKTI" mengandung arti KEBAIKAN/KEUTAMAAN YANG NYATA/ YANG SESUNGGUHNYA yakni yang berujud sebagai KEJUJURAN, KEBENARAN DAN KEADILAN.

     

    Total akses : 1612